Minggu, 16 Februari 2014

Sepenggal Kisah yang harus diingat

Terus terang cerita yang akan aku tulis ini bukan punyaku tapi aku tulis berdasarkan dari apa yang aku ingat dan apa yang sampai ke lubuk hati ini. Hari ini hari Jum'at tanggal 14 bulan Februari tahun 2014 Masehi sedangkan menurut kalender hijriyah hari ini tanggal 14 bulan Rabi'ul Akhir tahun 1435 Hijriyah. Kisah yang aku tulis di post ini adalah apa yang aku dengar selama mendengarkan khotbah Jum'at di Masjid Salman Bandung. Khatib yang sedang bertugas kebetulan dosen penulis waktu sedang menempuh studi. Beliau adalah Prof. H. Z. Abidin, Ph. D. Beliau merupakan salah satu dosen favorit penulis karena metode dan cara mengajar beliau yang aku bisa bilang bikin kangen. Sudah lah, di sini aku tidak berniat membahas itu. Berikut rangkaian kisah yang aku ingat selama Jum'atan tadi.

Dua minggu yang lalu, Khatib berdiskusi dengan salah seorang profesor asal Korea Selatan. Penelitian yang dilakukan oleh profesor tersebut adalah mencari hubungan atau korelasi antara kesuksesan dengan kebahagiaan. Beliau menganalisis korelasi ini pada beberapa negara (*seingatku tidak disebutkan apakah negara yang beliau teliti adalah seluruh negara di dunia atau apa). Kemudian, dari hasil penelitian tersebut negara yang menduduki peringkat pertama adalah Bhutan, Indonesia berada di posisi ke dua. Namun, sang profesor sendiri lebih cenderung suka kalau Indonesia berada di posisi pertama (Pendapat pribadi sang profesor). Sedangkan negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan berada di posisi paling ujung. Kasus bunuh diri di Korea Selatan merupakan yang tertinggi di dunia begitu juga halnya dengan kasus perceraian. Apabila dilihat kesuksesannya, siapa yang tidak kenal Samsung, Hyundai, dan merk-merk asal Korea Selatan lainnya. Lantas sang profesor memberikan kesimpulan bahwa korelasi dari dua hal tersebut negatif.

Demikian pendahuluan dari khotbahnya, dibagian berikutnya pendahuluan itu tidak disebutkan lagi dan bagian berikutnya masuk ke inti dari khotbah tersebut. Bahasan yang khatib bahas adalah kebahagiaan dan yang beliau sampaikan beliau dapat dari sebuah buku berjudul Rahasia Kebahagiaan karangan salah seorang "aku lupa tepatnya" dari Irak. Beliau membeberkan ada enam kunci kebahagiaan. Apa sajakah kunci kebahagiaan itu? Pastinya, kebahagiaan yang dimaksud oleh penulis ini adalah kebahagiaan dunia akhirat. 

Enam kunci kebahagiaan adalah: 

1. Yakin kepada Allah
Yakin kepada Allah disini maksudnya menjalankan seluruh perintahnya dan menjauhi seluruh larangannya. Diperintah Shalat lima waktu tepat waktu, ya shalat lima waktu tepat waktu. Diperintah menunaikan Zakat dan Puasa Ramadhan, ya lakukan keduanya. Begitu juga dilarang mendekati zina, ya jauhi Zina.

2. Berpikiran Baik kepada Allah
Berhusnudhon atau berprasangka baik kepada Allah merupakan kunci yang kedua. Banyak orang yang gagal ujian lalu putus asa dan akhirnya terlarut dalam keputusasaannya. Allah pasti punya rencana yang lebih baik. Kemampuan manusia sekarang telah mampu mempunyai jangkauan spasial yang luas bahkan bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di belahan dunia sana dengan menggunakan bantuan teknologi. Akan tetapi, jangkauan manusia akan waktu tidak panjang, manusia tidak tahu apa yang akan terjadi 10 tahun ke depan, 30 tahun ke depan, dst. Untuk itu, berbaiksangkalah kepada Allah, pasti Dia akan memberikan yang terbaik. Khatib sendiri dulu ingin menjadi petani, melihat tetangga banyak yang menjadi petani sukses khatib jadi ingin menjadi petani. Setelah lulus SMP, khatib mendaftar SMA pertanian di Bogor. Akah tetapi tidak lulus, dan khatib sempat sedih hingga dua minggu. Setelah mendapat nasihat dari almarhum ayah khatib, khatib mendaftar ke SMA kemudian melanjutkan kuliah di ITB lalu bertemu dengan ibunya anak-anak dan sekarang menjadi seperti ini. *perlu diketahui khatib sekarang sedang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan dan Alumni ITB.

3. Sabar
Sabar, tidak begitu banyak yang aku ingat pastinya sabar itu sabar dalam menghadapi cobaan. Ini berlaku untuk siapa saja baik yang kaya maupun yang miskin. Sabar bagi orang kaya adalah apakah dia menggunakan kekayaannya untuk keperluan yang benar dan halal, maksudnya apakah dia sabar dalam hal membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang berguna? Sedangkan untuk yang miskin, sabar hidup dalam kemiskinan itulah sabar. 

4. Rendah hati kepada Allah
Rendah hati, ini terutama untuk mereka yang mendapatkan berkah. Misal, pemimpin partai politik, partainya menang lalu apakah dia akan sombong dan memanfaatkan kedudukannya untuk keperluan pribadi? Rendah hati saat diterima masuk ITB, apakah lalu dia belajar untuk mendapatkan hasil yang baik dan terbaik?

5. Memikirkan musibah yang lebih besar
Kadang banyak orang yang mengeluh, hanya makan sehari sekali. Masih banyak orang yang makan seminggu dua kali. Masih banyak orang yang mengeluh sekolah itu susah, ingat masih banyak orang yang tidak mendapat kesempatan untuk mengenyam bangku sekolah. Pikirkan lah selalu bahwa masih ada mereka yang lebih menderita dari kita sehingga kita dapat mensyukuri apa yang kita punya.

6. Setia menanti jawaban/keputusan dari Allah
Apabila sudah berusaha, berdo'a dan bekerja keras tapi hasilnya tetap saja tidak ada. Setialah menunggu jawaban dan pertolongan dari Allah karena pertolongan Allah itu sudah dekat. Ini juga sudah dialami oleh banyak kaum-kaum terdahulu menanyakan kapan pertolongan Allah akan datang? ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat. Sabar dan setialah menunggu.

Demikian kira-kira isi dari khotbah khatib pada tersebut. Semoga ini menjadi pelajaran dan aku cuma meneruskan apa yang aku dengar dan apa yang aku ingat. Kalau benar itu datangnya dari Allah, kalau salah aku mohon maaf.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar