Senin, 02 Desember 2013

Kacang Tanah

I remember my dad once says "Jid, kalau bercocok tanam di tanah sendiri, gak usah nanem kacang tanah. Kalau kamu nanem kacang tanah memang panennya akan banyak dan bagus tapi tanaman yang kamu tanam setelah itu hasilnya gak akan bagus seperti sebelumnya kalau kamu gak memberi pupuk yang lebih banyak."

Lebih dari lima tahun perkataan tersebut keluar dari bapakku, sampai saat ini aku masih ingat walaupun mungkin kata-katanya tidak persis seperti itu tapi kurang lebih ya maknanya sama. Kacang tanah memang enak, aku sering makan kacang tanah baik dari beli, nyabut sendiri atau minta ama orang, baik matang ataupun mentah. Rasa kacang tanah mentah yang sudah besar membuat mulutku selalu ingin memakannya seperti ada zat adiktifnya. Bentuk olahan dari kacang yang aku suka sampai saat ini hanya kacang rebus, cocok buat menemani begadang. 

Bertanam kacang tanah menurutku merupakan bercocok tanam yang sangat mudah. Pengalaman bertanam kacang di kampungku dilakukan dengan menanam benih tersebut pada tanah yang sudah disiapkan. Kemudian biarkan hingga besar alias gak perlu berbuat apa-apa lagi. Singkatnya tanam lalu tunggu panen. Saat tanaman kacang sudang berumur dua bulan sebaiknya sering di tengok karena biasanya banyak orang yang suka mencabut karena begitu sukanya dengan kacang tanah.

Tadinya aku ingin mengulas bagaimana bercocok tanam kacang tanah dilengkapi dengan edukasi biologi dari cang tanah itu sendiri. Setelah aku perhatikan untuk menjadi petani kacang tanah diperlukan kesabaran dan modal yang cukup. Kalau kecewa dengan tulisan ini ya silakan kunjungi Budidaya kacang tanah dan Hal-hal terkait kacang tanah pasti akan menemukan apa yang dimau. 

Seperti kacang tanah, aku nampaknya sudah terlalu lama vakum dari dunia blogging, aku ingin kembali menikmati hidup bercerita disini. Semoga masih bisa memberikan apa yang terbaik dariku.